Home / Banten / Kadulipung, Kampung Sentra Kolang Kaling di Pandeglang
Buah aren sebelum diolah menjadi kolang kaling di Kampung Kadulipung, Desa Kalanggunung, Kecamatan Cipeucang,Pandeglang. Foto:dewi/wongbanten.id

Kadulipung, Kampung Sentra Kolang Kaling di Pandeglang

Sebagai daerah yang wilayahnya dikelilingi oleh pegunungan, Kabupaten Pandeglang diberkahi dengan sumber daya alam yang melimpah.

Tanah yang subur serta udara yang sejuk, membuat tumbuhan berkembang dengan baik. Salah satu tumbuhan yang berkembang dengan baik di wilayah Pandeglang adalah pohon Aren ( Arenga Pinnata ).

Hampir di seluruh kecamatan di Pandeglang, tumbuhan palma ini bisa hidup dengan baik. Seperti pohon kelapa, hampir seluruh bagian tumbuhan ini bisa dimanfaatkan oleh masyarakat.

Di Kecamatan Cibaliung, enau disadap bagian manggar atau tandan bunga jantan tumbuhan aren. Air yang keluar ditampung dalam tabung bambu, rasanya manis dan disebut sebagai lahang atau dalam bahasa Indonesia dinamai nira. Lahang atau nira inilah yang dimanfaatkan untuk pembuatan gula aren.

Sementara itu di Kecamatan Cipeucang, tepatnya di Kampung Kadulipung, Desa Kalanggunung Kecamatan Cipeucang pohon enau dimanfaatkan buahnya yang disebut buah atap atau kolang kaling.

Kampung ini dikenal sebagai sentra kolang kaling di Pandeglang karena saat musim panen kolang-kaling hampir setiap rumah di kampung ini disulap menjadi di tempat pengolahan buah atap atau cangkaleng,caruluk dalam Bahasa Sunda.

Kondisi ini sudah berlangsung belasan tahun karena di kampung itu memang banyak tumbuh pohon aren. Menjelang bulan Ramadhan, buah pohon aren alias glibbertjes dalam bahasa Belanda mulai dipanen oleh warga.

Dipanen dengan menebas tandan buahnya, lalu tandan buah itu ditumpuk. Dalam proses ini harus hati-hati karena getah kolang kaling bisa menyebabkan kulit gatal bahkan iritasi.

Agar getahnya hilang, buah kolang kaling yang masih terbungkus semacam sabut lunak warna hijau mirip kelapa itu direbus dalam tong selama berjam jam agar lunak dan mudah dikupas. Jadi memudahkan untuk mengambil kolang kaling yang merupakan inti dari buah Aren.

Usai direbus, buah Aren dikupas dan dikeluarkan inti buahnya yang lunak dan berwarna bening atau kolang kaling. Setelah itu, dicuci dan akhirnya direndam lagi dalam larutan kapur atau apu dalam bahasa Sunda. Tujuannya selain mengawetkan kolang kaling juga menghilangkan sisa getah bila masih menempel.

Proses memanen kolang-kaling biasanya dilakukan oleh bapak-bapak karena pohon kolang-kaling besar dan tinggi, ada yang tingginya mencapai 20 meter sehingga membutuhkan tenaga yang luar biasa untuk memanjat serta memanen buahnya.

Selain memanen kolang-kaling biasanya bapak-bapak juga mengambil ijuk atau serabut warna hitam di sela-sela pelepah daun aren. Ijuk ini bisa dibuat menjadi sapu.

Saat hendak dijual kolang kaling direbus lagi hingga melunak dan dicuci lalu siap dijual ke kecamatan lain di Pandeglang bahkan ke Rangkasbitung, Tangerang, Jakarta, dan Bogor.

Di bulan Ramadhan, buah ini banyak diburu karena lezat bila dimasak menjadi kolak, manisan, atau campuran es campur.

Jadi kalau kamu lagi makan kolang kaling bisa jadi kolang kalingnya berasal dari Kadulipung, desa di perut Gunung Pulosari Pandeglang.(dewi)

Check Also

Pendidikan Sejarah FKIP Untirta Adakan Work Shop Karya Ilmiah

WONGBANTEN.ID, Serang Untuk mempertajam analisis dalam menyusun sebuah karya tulis, Pendidikan Sejarah FKIP Untirta menggelar …

Lolos Ke Final, Atlet Muay Thai Banten Menangis Dipeluk Wagub 

WONGBANTEN.ID. JAYAPURA – Mia Amalia, atlet Muay Thai Provinsi Banten berhasil lolos ke babak final …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *