Home / Pendidikan / Strategi Budaya di Era Milenial: Memastikan Arah Langkah Kebudayaan Kita
Seni tari adalah hasil kebudayaan. Foto:poe

Strategi Budaya di Era Milenial: Memastikan Arah Langkah Kebudayaan Kita

Sebagai pembuka saya ingin memulai dengan beberapa pertanyaan dasar mengenai substansi, yang bersifat reflektif. Pertanyaan-pertanyaan dasar inilah yang akan kita jadikan pijakan untuk dapat mengarahkan kemana kita akan melangkah. Paling tidak pola fikir kita sama dalam konteks memandang sebuah persoalan, sehingga kita cukup tahu diri untuk dapat mengidentifikasi setiap persoalan.

Pertanyaan dasar ini terkait dengan nilai yang sudah dianut oleh masyarakat yang secara turun-temurun, maupun yang sudah ber akulturasi dengan banyak nilai dari luar. Meskipun jawaban dari setiap pertanyaan ini tidak mungkin tunggal, karena terkait dengan banyak pehaman serta informasi yang berkembang, namun paling tidak gambaran utuhnya masih dalam konteks nilai falsafah yang sama.

Pertanyaannya adalah, siapakah yang disebut orang Cilegon? Apakah suku asli orang Cilegon? Apa sajakah nilai-nilai luhur yang melatar belakangi kehidupan orang Cilegon? Kemudian dalam mengekspresikan nilai kebudayaannya, apa yang dilakukan orang Cilegon, misalanya dalam konteks berkesenian?

Pertanyaan dasar ini merupakan tugas kita bersama untuk merumuskan, kemudian saling menyusun jawaban untuk dapat mengentahui jati diri kita. Dalam diskursus mengenai kebudayaan, pembahasan mengenai peranan kebudayaan dalam era globalisasi ini menjadi sangat penting, karena tidak sekedar hanya pemenuhan informasi mengenai akar nilai kita saja, namun lebih jauh dari itu, kita diajak lebih jauh mengenal identitas kita sehingga, kita dapat dengan mudah mengenali potensi serta kelemahan yang kita miliki.

Menelusuri Akar Nilai Kebudayaan Kita

Cilegon sebenarnya merupakan kota yang relatif baru, terlebih jika kita membicarakannya dalam rangkaian sejarah panjang nilai kebudayaan nya. Cilegon merupakan kota dengan berhadapan langsung dengan Selat Sunda, dimana kemudian letak geografis inilah yang turut membentuk nilai kulturalnya. Meskipun menjadi daerah persinggahan atau transit, sehingga mempertemukan banyak nilai yang datang, namun secara umum Kota Cilegon memiliki kaitan erat dengan suku Sunda dan Jawa. Sebagaian orang Cilegon mengerti dan faham bahasa Sunda, meskipun kebanyakan berbahasa Jawa Cilegon, atau yang lebih halus bebasan, perpaduan Sunda dan Jawa halus.

Karakteristik lainnya bisa kita lihat dari kondisi geografisnya, yakni orang Cilegon yang merupakan sebagian pesisir pantai, namun pada bagian lainnya merupakan, daerah sawah, ladang dan pegunungan. Ini memberikan pesan bahwa orang Cilegon sudah terbiasa dengan keragaman, serta pekerja keras.

Belakangan memang ada banyak nilai kebudayaan yang dibawa dari berbagai macam daerah masuk kekota Cilegon. Terlebih setelah industrialisasi masuk. Orang-orang berdatangan dari berbagai macam latar belakang, suku, agama, ras hingga berbeda kewarganegaraan. Inilah yang kemudian secara pelahan akulturasi budaya menjadi sebuah keniscayaan yang tidak bisa dihindarkan.

Kemudian pertanyaan selanjutnya adalah, lalu akan kita kemanakan banyak nilai ke arifan lokal yang kita miliki? apakah nilai-nilai tersebut akan kita kuburkan atau kita masih merasa perlu untuk tetap terus di lestarikan?. Ditengah industrialisasi yang semakin maju pesat, kota Cilegon menjadi sasaran orang untuk bisa dikunjungi untuk menanamkan investasinya, sekaligus menjadi tujuan para pencari kerja.

Strategi Milenial dalam Mengemas Kearifan Lokal Kebudayaan Kita

Arah selanjutnya mengenai strategi kebudayaan kita di era milenial adalah dengan merespon berbagai macam nilai kebudayaan kita dengan berbasiskan kepada penggunaan teknologi. Penulis William Strauss dan Neil Howe, yang dianggap sebagai pencetus penamaan Milenial, ia menciptakan istilah ini pada tahun 1987. Merujuk pada generasi yang terhubung pada masa remajanya berkisaran tahun 2000 an sebagai tahun milenium.

Generasi inilah yang di identifikasi dari usia 16 tahun hingga 35 tahunan, memiliki respon terhadap kemajuan teknologi secara agresif. Sehingga instrumen satu-satunya memanfaatkan teknologi digital dalam menjalankan berbagai macam kegiatan. Sosial media, serta keterbukaan menjadi sarana penunjang pada generasi milenial ini.

Kehidupan yang serba digital, kemudian pada satu sisi membawa nilai positifnya tersendiri. Teknologi membuat lebih menyederhanakan setiap persoalan. Dunia memungkinkan bisa dijelajahi hanya dari gengaman tangan. Hal-hal kecil, detil dan spesifik, yang dahulu akan sulit terjangkau, dengan teknologi bisa didapatkan selengkap mungkin informasinya hanya melalui google search.

Hal inilah kemudian yang dapat dimanfaatkan oleh banyak generasi milenial dalam konteks kebudayaan. Google misalnya meluncurkan program Google Arts and Culture, yang memotret dan memberikan informasi peristiwa-eristiwa kebudayaan dari berbagai macam belahan dunia. Peristiwa-peristiwa kecil di daerah, jadi memungkinkan bisa di akses diberbagai macam belahan dunia.

Di Cilegon misalnya memiliki beberapa event kebudayaan yang cukup besar dan fenomenal misalnya, ada golok day dan Cilegon Ethnic Carnival, yang dijadikan event tahunan. Bayangkan peristwa tersebut kemudian menjadi ikon baru bagai Cilegon, dalam mempromosikan peristiwa-peristiwa kebudayaannya. Dan tidak menutup kemungkian event-event kita bisa dijadikan salah satu ulasan dalam konten semacam google art dan culture tersebut.

Dalam konteks komunikasi sosial, kerap terjadi hubungan konflik industrial diberbagai macam industri dengan latar belakang nilai kebudayaan yang berbeda, sehingga kerap menimbulkan konflik yang kurang baik. Namun dengan banyak membangun momentum kebudayaan, pertukaran seni dan kebudayaan antara masing-masing daerah atau negara, ini bisa jadi merupakan cara yang tepat dan baik dalam proses menjalin hubungan dengan seluruh stakeholder.

Pada sisi yang lainnya, kota Cilegon juga diuntungkan dengan basis industri yang dimiliki. Industri di Cilegon memiliki karaktersitik industri yang berat dan padat modal. Investasinya banyak modal asing, sehingga kota Cilegon lebih dikenal dimana negara investor berasal. Ini bisa menguntungkan karena sekecil apapun karya kita, jika kita kemas dengan baik, kemudian kita bisa memasrkannya ke industri, sehingga dapat di terima, maka daya dorong nilai informasinya lebih jauh. Karena karya kita akan dijadikan laporan oleh industri tersebut kepada negara asalnya.

Inilah potensi yang kita miliki, sehingga kita lebih memiliki potensi untuk bisa maju lebih terbuka dan lebih diuntungkan. Misalnya dalam beberap event industri, masyarakat, dan pemerintah, kerap ada yang hilang dalam cara berkomunikasi. Orang-orang asing, dengan latar belakang yang jauh berbeda dipaksakan memasuki wilayah nilai kultural kita, sehingga ada persoalan dalam pehamannya. Akhirnya kerap kita terlalu kaku dalam menyampaikan setiap pesan-pesan yang ingin dibangun antara industri, masyarakat dengan pemerintah.

Padahal ada baiknya kita mencoba saling berkolaborasi, saling mempertontonkan nilai dasar falsafah nya masing-masing dengan saling bertukar peristiwa kebudayaan, saling memahami nilai masing-masing. Harapannya dengan strategi ini dapat menurunkan ketegangan-ketegangan yang kerap ditemui dalam menjalankan hubungan industrial.

Saling bertukar pertunjukan kebudayaan inilah yang mesti sering-sering dilakukan, terlebih oleh para generasi milenial. Lebih jauh lagi saling memahami nilai kebudayaan satu dengan yang lainnya. Misalnya kita bisa melakukan pertukaran pertunjukan, dengan saling bertukar peran serta posisi. Senimaan dari Cilegon sekali waktu bisa memainkan kesenian Korea, atau sebaliknya.

Kehangatan semacam inilah yang ingin terus di bangun dalam mewujudkan cita-cita bersama dalam menyongsong masa depan dengan penuh rasa suka cita. Karakteristik milenial selanjutnya adalah mengenai keterbukaan, kemasan yang komunikatif, serta keberanian untuk melewati batasan-batasan nilai sekalipun.

Misalnya dahulu pada masanya hadroh yang kesenian khas Cilegon bernuansa islami selalu akan dibawakan dengan syair-syair bernuansa arab dan berbahasa arab, namun di era milenial seperti sekarang tidak salah rasanya untuk dicoba dalam bentuknya yang lain menggunakan bahasa asing, sehingga perpaduan tersebut terjadi dan terlabih pesannya bisa sampai.

Penulis: Huluful Fahmi-Ketua Cilegon Corporate Sosial Responsibility (CCSR)

Check Also

Waspadai Penyeludupan Narkotika di Tengah Arus Mudik, BNNK Cilegon Gelar Operasi P4GN

WONGBANTEN.ID,CILEGON-Antisipasi¬† para pelaku penyeludup narkotika dari Sumatera ke Jawa maupun sebaliknya yang ¬†memanfaatkan situasi arus …

Kisah Perjuangan Handayani, Guru Tunadaksa asal Temuputih

WONGBANTEN.ID,CILEGON-Lahir dari keluarga tidak mampu dengan keterbatasan fisik dan motorik yang dimilikinya, tak menjadikan gadis …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *