Home / Nusantara / Dua Mobil Mercy “Wong Banten” Jadi Pusat Perhatian di Mercedes Benz Museum Stutgart
Mercedes Benz 280 E tahun 1983 dan G 300 tahun Team Mengembara Lintas Benua, mobil Mercedes-Benz wong Banten dan Indonesia yang pertama parkir di Mercedes-Benz Museum. Foto:Mengembara Lintas Benua

Dua Mobil Mercy “Wong Banten” Jadi Pusat Perhatian di Mercedes Benz Museum Stutgart

Mercedes Benz Museum Stutgart, Jerman, merupakan sebuah museum yang tidak sekedar menyimpan koleksi mobil Mercedes Benz dari tahun ke tahun. Tetapi mampu membawa setiap pengunjung melintasi kisah setiap jaman. Yaitu sejak mesin satu silinder siap dipasarkan oleh pabrik otomotif tertua di dunia ini, hingga ke masa depan transportasi dunia. Lengkap dengan setting kondisi sosial politik yang merubah jaman.

Mulai dari perang dunia, penemuan atom, individual era, hingga internet dan sosial media. Jadi pengunjung tak sekedar menonton display mobil sebagai sebuah benda, namun ia menjadi benang merah kisah yang menembus ruang dan waktu.

 

Museum ini menjadi salah satu tujuan  turing lintas negara oleh  klub otomotif asal Banten, yaitu Mercedes Benz Club Banten. Kegiatan yang bertajuk Mengembara Lintas Benua ini diikuti oleh 7 orang peserta menggunakan dua buah kendaraan yaitu Mercedes Benz 280 E lansiran  tahun 1983 dan G 300 buatan tahun 1995. Sejak berangkat  dari halaman Masjid Agung Banten pada tanggal 20 Mei 2018 lalu, kini Tim Mengembara Lintas Benua telah melintasi 26 negara di 3 benua dari total 52 negara yang akan dilintasi hingga finish di Banten pada bulan September 2019 nanti.

Iip (37), Team Leader Mengembara Lintas Benua menyerahkan plakat Mercedes Benz Club Banten
untuk Mercedes Benz Museum Stutgart yang diterima oleh Mr. Padraic Lenehan.
Foto:Mengembara Lintas Benua

Menurut Iip (37), Team Leader Mengembara Lintas Benua, sebenarnya yang diperbolehkan parkir di depan museum hanya mobil yang berusia lebih dari 30 tahun.

“ Jadi hanya salah satu dari dua mobil yang kami gunakan bisa parkir di depan museum, karena mobil G 300 masih berusia 24 tahun. Tetapi, begitu pihak museum tahu dua kendaraan ini telah menempuh jarak sejauh 42.000 km dari Indonesia ke Stuttgart, maka keduanya dipersilahkan parkir di depan pintu masuk museum. Dan ini menjadi kendaraan pertama asal Indonesia yang berada di sana. Akhirnya dua kendaraan ini menjadi pusat perhatian dan objek foto para pengunjung museum dari berbagai Negara,” jelas Iip.

 

Iip (37) menjelaskan, bahwa mejeng di depan museum ini sebenarnya hanya simbol saja. Menurutnya, yang lebih penting dari itu adalah menunjukkan pada dunia bahwa Indonesia diterima di berbagai negara tanpa resistensi. Tim ini sengaja menuliskan nama INDONESIA di kaca depan mobil dengan huruf besar berwarna merah putih untuk menguji apakah orang tahu tentang Indonesia dan diterima atau tidak melintasi negaranya. Karena tujuan perjalanan ini adalah untuk mengkonfirmasi pengaruh Indonesia di negara-negara yang dilintasi dalam tataran citizenship, people to people. Itu mengapa rute yang dipilih menghindari jalan tol supaya lebih mudah berinteraksi dengan masyarakat lokal serta melihat lanskap mulai dari wilayah pedesaan.

 

Setelah dari Stuttgart, Tim Mengembara Lintas Benua akan melanjutkan pejalanan ke Scandinavia, Rusia, Asia Tengah, Cina, Indochina dan kembali ke Indonesia. Hasil dari perjalanan ini akan dibukukan dan di rilis dalam film dokumenter. Saat ini kisah perjalanan mereka bisa diikuti di www.mengembara.id dan instagram @mengembaralintasbenua.

Peserta Mengembara Lintas Benua, dari kiri ke kanan : Darwin (filmmaker), Iip (Tim Leader), Restu Adiwiguna (Comander), Adhy (Road Manager), Syafril (Mechanic), Alan (Observer), Elva (Writer).
Foto:Mengembara Lintas Benua

 

Presiden Mercedes Benz Club Banten, Didi Hariyadi (40), memaparkan bahwa kegiatan ini merupakan salah satu program kerja klub otomotif tersebut dan tidak ada hubungannya dengan principal Mercedes-Benz. Ia menegaskan bahwa meskipun membawa nama brand sebuah perusahaan otomotif, bukan berarti disponsori oleh perusahaan otomotif tersebut. Pembiayaan ditanggung swadaya oleh klub. Menurutnya, ini bukti nyata untuk menunjukkan pada dunia eksistensi klub otomotif Indonesia. Memilih menggunakan kendaraan berusia lebih dari 30 tahun ini juga merupakan salah satu cara memperlihatkan bahwa skill pecinta otomotif di Indonesia tak boleh dipadang sebelah mata. Buktinya mampu mengawal mobil tua melintasi 3 benua.(poe)

 

 

 

Check Also

Penuhi Persediaan Jelang Lebaran, PMI Kota Cilegon Ajak Warga “Sedekah” Darah

WONGBANTEN.ID,CILEGON- Untuk memenuhi  kebutuhan dan menjaga persediaan darah yang aman  menjelang Hari Raya Idul Fitri …

Pandeglang Raih WTP 5 Kali Berturut-turut, Irna :Ini Hasil Kerja Semua

WONGBANTEN.ID,SERANG- Bupati Pandeglang Irna Narulita menyatakan, opini wajar tanpa pengecualian (WTP) dari Badan Pemeriksa Keuangan …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *