Home / Lingkungan / Kelahiran Elang Jawa “PRAWARA”, Sang Penerus Penguasa Tahta Langit
Elang Jawa (Nisaetus bartelsi).Foto-net

Kelahiran Elang Jawa “PRAWARA”, Sang Penerus Penguasa Tahta Langit

Pada awal April 2021, telah lahir “Sang Penerus Penguasa Tahta Langit”, yaitu seekor anak burung Elang Jawa (Nisaetus bartelsi) di Taman Nasional Gunung Halimun Salak (TNGHS), Sukabumi. Garuda muda yang baru lahir itu diberi nama “PRAWARA” yang dalam bahasa sansekerta berarti Paling Terkemuka.

Dikutip wongbanten.id dari laman www.menlhk.go.id,Rabu (28/4/2021) Pengendali Ekosistem Hutan (PEH) pada Balai TNGHS Wardi Septiana menjelaskan,  kelahiran ini memang secara khusus dan rutin dipantau oleh tim monitoring Elang Jawa Balai TNGHS sejak bulan Desember 2020.

April 2021, telah lahir “Sang Penerus Penguasa Tahta Langit”, yaitu seekor anak burung Elang Jawa (Nisaetus bartelsi) di Taman Nasional Gunung Halimun Salak (TNGHS), Sukabumi. Garuda muda yang baru lahir itu diberi nama “PRAWARA” yang dalam bahasa sansekerta berarti Paling Terkemuka.Foto:Kemen LHK

Setiap aktivitas dari pasangan Elang Jawa ini direkam, dari mulai penataan sarang, pengeraman telur, dan sampai menetas.

“Kami menggunakan teknologi dan memasang kamera CCTV di dekat sarangnya. Selain itu, kami juga mengkoneksikan ke jaringan internet segala aktivitas Pasangan Elang Jawa selama proses perkembangbiakannya dapat secara online termonitor di android,” jelasnya.

Elang Jawa merupakan salah satu dari tiga spesies kunci di Taman Nasional Gunung Halimun Salak dan sebagai satwa endemik Pulau Jawa. Uni Internasional untuk Konservasi Alam (IUCN) mengkategorikan Elang Jawa sebagai jenis satwa terancam punah, karena itu pemerintah Indonesia menetapkan Elang Jawa sebagai jenis satwa dilindungi.

Elang Jawa hanya mengalami satu kali masa berkembangbiak dalam dua tahun,  itupun jumlah telurnya hanya sebutir sehingga secara alami memiliki populasi yang rendah. Masa bersarang merupakan masa yang paling penting dalam siklus hidup burung pemangsa untuk keberlanjutan keberadaannya.

Oleh karena itu, salah satu rencana aksi dalam upaya untuk meningkatkan tingkat kesuksesan perkembangbiakan (breeding success) Elang Jawa adalah dengan melindungi pohon sarang Elang Jawa yang aktif.

Di dalam ekosistem, Elang Jawa mempunyai peranan yang sangat penting yaitu sebagai indikator terjaganya suatu kawasan hutan. Secara umum habitat Elang Jawa berada pada hutan primer dan sebagian kecil hutan sekunder yang berdekatan/ berbatasan dengan ecotone. Kawasan TNGHS yang merupakan hutan hujan tropis pegunungan terluas yang masih tersisa di Pulau Jawa diyakini sebagai hatitat terbaik dari jenis elang ini.

Tercatat mulai dari tahun 2015 sampai dengan tahun 2021 telah ditemukan dua belas sarang aktif Elang Jawa di kawasan taman nasional ini, yaitu; sembilan sarang di kawasan Gunung Salak dan  tiga sarang di kawasan Gunung Halimun.

Seperti tahun-tahun sebelumnya, Tim Konservasi Elang Jawa Tanahalisa melakukan perlindungan dan pemantauan sarang burung yang identik dengan lambang negara Republik Indonesia, yaitu Garuda, secara rutin setiap tahun, yang dilakukan sejak akhir tahun 2020.

Selanjutnya Wardi menceritakan, berdasarkan hasil pengamatan di lapangan, pasangan Elang Jawa yang terpantau sedang berbiak adalah “Prabu dan Ratu” atau disingkat “PRATU”. Dan telah dipantau perilaku berbiaknya sejak tahun 2019, namun lebih intensif dipantau mulai bulan Desember 2020. Setelah itu, pemasangan kamera CCTV dimulai pada awal bulan Februari 2021.

“Dari hasil data monitoring kamera CCTV, Ratu meletakkan telur pada tanggal 21 Februari 2021. Setelah 47 hari pengeraman, akhirnya telur PRATU menetas pada tanggal 9 April 2021, tepatnya pada hari Jum’at pukul 05.47 WIB. Detik-detik prosesi penetasan telur dibantu oleh Ratu (induknya) sejak pukul 05.30 WIB, dan hal ini termonitor secara online di Android,” terang Wardi.

Wardi mengatakan, hal ini menjadi pencapaian luar biasa karena menjadikan pemantauan perilaku berbiak Elang Jawa di alam dengan menggunakan kamera CCTV secara online pertama di Bumi Nusantara. Ia berharap, Prawara dapat tumbuh dan berkembang dengan baik sampai dengan dewasa dan bisa menjadi penerus penguasa tahta langit di Rimba Gunung Salak. Dibutuhkan peran serta dan partisipasi dari masyarakat untuk mengawal dan menjaga sampai PRAWARA dewasa, dan kelestarian keanekaragaman hayati di TNGHS.(ps-rls)

Check Also

Melawan Saat Ditangkap, 2 Maling Truk Ditembak Kakinya

WONGBANTEN.ID,CILEGON– Tim Reserse Mobil (Resmob) Polres Cilegon, Polda Banten menembak dua orang anggota anggota sindikat …

Peringati Harlah ke-23, PKB Cilegon Bagi Sembako ke Anak Yatim Piatu dan Warga Terdampak Covid-19

WONGBANTEN.ID,CILEGON-Hari ini Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) menginjak umur ke-23.Peringatan hari lahir (Harlah) partai yang  dideklarasikan …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *