Home / Pendidikan / Kisah Perjuangan Handayani, Guru Tunadaksa asal Temuputih
Handayani (24), gadis tuna daksa asal Temuputih RT 04/RW02 Kelurahan Ciwaduk, Kecamatan Cilegon, Kota Cilegon, Banten, berhasil mewujudkan cita-cita nya menjadi seorang guru di salah satu sekolah khusus milik yayasan Al Kautsar di Kota Cilegon.Foto:ist

Kisah Perjuangan Handayani, Guru Tunadaksa asal Temuputih

WONGBANTEN.ID,CILEGON-Lahir dari keluarga tidak mampu dengan keterbatasan fisik dan motorik yang dimilikinya, tak menjadikan gadis piatu ini patah semangat mewujudkan cita-cita nya untuk kemajuan kaum disabilitas.

Handayani (24), gadis tuna daksa asal Temuputih RT 04/RW02 Kelurahan Ciwaduk, Kecamatan Cilegon, Kota Cilegon, Banten, berhasil  mewujudkan cita-cita nya menjadi seorang guru di salah satu sekolah khusus milik yayasan Al Kautsar di Kota Cilegon.

Lulusan Fakultas Ilmu Keguruan dan  Pendidikan (FKIP) Untirta, jurusan pendidikan khusus yang lulus tahun 2020 ini, membaktikan dirinya menjadi guru sejak 2019.

Ditemui di kediamannya Sabtu (8/5/2021), di masa pandemi covid-19,  Handayani mengajar secara dalam jaringan atau online untuk kelas siswa disabilitas SMP dan SMA dengan kekhususan tuna grahita atau dengan keterbatasan down syndrome dan hambatan intelegensi.

“Saya ingin kaum disabilitas itu juga memiliki hak yang sama dalam pendidikan. Makanya saya ingin menjadi guru, karena Ilmu itu bukan buat sendiri dan harus dibagi. Anak berkebutuhan khusus mempunyai hak pendidikan yang sama sesuai dengan kebutuhan agar bisa sama-sama berkembang,” katanya.

Menjadi penyandang disabilitas ternyata tidak mudah, dia bercerita seorang  penyandang disabilitas  harus semangat dan mandiri agar tidak diremehkan. Sebelum menjadi guru, kader di lingkungan nya sudah berkali-kali meminta pengajuan bantuan tongkat maupun kursi roda, namun pengajuab tersebut tidak pernah direspon pemerintah daerah.

“Intinya kita harus mandiri. Bisa maju dengan kemampuan yang kita miliki ini. Dulu saya sangat berharap dapat bantuan tongkat atau kursi roda tapi itu saya dapatkan dari hadiah lomba SD, terus dari teman kuliah karena pengajuan bantuan tidak pernah direspon. Harapan saya sih semoga nanti pemerintah bisa lebih tanggap merespon pengajuan bantuan untuk kaum disabilitas karena siapa tau memang butuh yah,” jelasnya.

Hal itu juga diakui Rosaeni kader Temuputih yang sempat mengajukan bantuan kursi roda untuk snag guru disabilitas.

“Iya jadi dulu pernah saya ajukan berkali-kali ke Dinsos tapi tidak pernah ada respon. Sampai ahirnya dua kali dapat kursi roda itu ya dari hasil lomba dan bantuan dari teman kuliah nya saja, jadi yang terahir saya enggak ngajuin lagi,” terang Ros.

Meski tak pernah mendapat bantuan dari pemerintah, Handayani tak pernah berkeberatan diundang menghadiri pelantikan Wali Kota dan Wakil Wali Kota Cilegon beberapa waktu lalu.

“Kemarin sempat diundang khusus menyaksikan pelantikan walikota dan wakil walikota Cilegon. Semoga kedepan ada perhatian untuk kaum disabilitas,” harap nya.(ps)

Check Also

520 Masyarakat Maritim Menerima Vaksin Covid-19

WONGBANTEN.ID, CILEGON. Upaya pencegahan penyebaran Covid-19 terus digalakkan oleh pemerintah, salahsatunya dengan melakukan serbuan vaksinasi …

Gubernur WH : Kota Serang Etalase dan Pusat Pemerintahan Provinsi Banten

Gubernur Banten Wahidin Halim (WH) berharap Kota Serang tumbuh menjadi etalase dan Pusat Pemerintahan Provinsi …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *